Sistem Informasi Desa Kedunguter

Rembug Stunting Tingkat Desa Kedunguter

Membangun Komitmen Bersama demi Generasi Kedunguter yang Sehat, Cerdas, dan Berdaya

Gedung Sasana Krida Sena, 30 Oktober 2025


Menggugah Kesadaran Bersama untuk Masa Depan Anak Desa

Pada Kamis, 30 Oktober 2025, Pemerintah Desa Kedunguter menyelenggarakan Rembug Stunting Tingkat Desa di Gedung Sasana Krida Sena Desa Kedunguter.
Acara ini merupakan langkah strategis untuk memastikan percepatan penurunan stunting, sekaligus memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam membangun generasi yang sehat, kuat, dan cerdas.

Rembug stunting adalah rangkaian kegiatan penting yang wajib dilaksanakan oleh desa sebagai dasar penyusunan rencana kerja tahunan, terutama yang terkait dengan penanganan kesehatan ibu dan anak.
Melalui forum ini, berbagai permasalahan, data, tantangan, hingga solusi penanganan stunting dibahas secara komprehensif guna menentukan langkah-langkah terbaik bagi masyarakat.


Peserta yang Hadir: Kolaborasi Lintas Sektor Demi Tujuan Bersama

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur penting yang memiliki peran strategis dalam penanganan stunting di Desa Kedunguter.
Adapun yang hadir meliputi:

  • Kepala Desa Kedunguter beserta jajaran perangkat desa

  • Tim fasilitasi Puskesmas Banyumas

  • Ketua BPD dan anggota

  • Babinsa

  • Bhabinkamtibmas

  • Tokoh agama dan tokoh masyarakat

  • Ketua RW se-Desa Kedunguter

  • Perwakilan kader kesehatan

  • Ketua Pokja 4 TP-PKK

Keberagaman peserta ini mencerminkan kuatnya komitmen bersama untuk melihat permasalahan stunting sebagai isu multidimensi yang hanya dapat diselesaikan melalui kolaborasi lintas sektor.


Pemaparan Awal: Menyelami Masalah, Menemukan Akar Permasalahan

Rembug stunting dimulai dengan pemaparan hasil Survei Mawas Diri (SMD) yang telah dilaksanakan pada tanggal 22 dan 23 Oktober 2025. SMD adalah kegiatan identifikasi kondisi kesehatan masyarakat yang melibatkan partisipasi warga secara aktif.
Melalui SMD, diperoleh gambaran jelas mengenai:

  • masalah kesehatan yang muncul di masyarakat,

  • penyebab dan faktor risiko,

  • potensi serta sumber daya yang dimiliki desa,

  • dan prioritas masalah yang perlu segera ditangani.

Data SMD ini kemudian dibawa ke forum MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) untuk dianalisis bersama, sehingga rumusan kegiatan penanggulangan dapat direncanakan secara tepat dan sesuai kebutuhan lapangan.


Musyawarah Masyarakat Desa (MMD): Menetapkan Arah Penanganan Stunting

Dalam sesi musyawarah, berbagai unsur masyarakat menyampaikan pandangan, pengalaman, dan rekomendasi.
Beberapa isu penting yang mengemuka dalam diskusi antara lain:

  • perlu adanya peningkatan ketahanan pangan keluarga,

  • pentingnya edukasi gizi sejak remaja, calon pengantin, hingga ibu hamil,

  • peningkatan kualitas sanitasi dan MCK,

  • penanganan faktor lingkungan dan perilaku hidup bersih,

  • perlunya intervensi nutrisi yang tepat sasaran,

  • optimalisasi peran kader kesehatan dan TP-PKK dalam pemantauan balita dan ibu hamil.

Puskesmas Banyumas memberikan gambaran mengenai kondisi stunting terkini, termasuk jumlah balita stunting, kasus risiko tinggi pada ibu hamil, serta permasalahan kesehatan yang berhubungan dengan gizi dan tumbuh kembang anak.


Peran Penting Pemerintah Desa dan TP-PKK dalam Penanganan

Kepala Desa Kedunguter menegaskan kembali bahwa penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat dan perangkat desa.

Beberapa komitmen desa dalam forum rembug ini antara lain:

  • memasukkan program penurunan stunting sebagai prioritas dalam penyusunan RKP dan APBDes,

  • memperkuat peran kader posyandu sebagai ujung tombak edukasi dan pemantauan,

  • meningkatkan koordinasi dengan TP-PKK, khususnya Pokja 4,

  • memperkuat kegiatan Genting (Gerakan Atasi Stunting),

  • mengoptimalkan pertemuan rutin, edukasi remaja, dan penyuluhan keluarga 1000 HPK.

Harapannya, seluruh rumah tangga yang berisiko dapat memperoleh intervensi secara cepat, tepat, dan terukur.


Keterlibatan Tokoh Agama dan Masyarakat: Menguatkan Edukasi dari Hati ke Hati

Tokoh agama dan para sesepuh desa juga memberikan masukan penting terkait pendekatan edukatif berbasis nilai, moral, dan kedekatan sosial.
Pemahaman masyarakat mengenai gizi, kesehatan ibu hamil, pola asuh, dan sanitasi perlu diperkuat melalui:

  • pengajian,

  • pertemuan RW,

  • kegiatan posyandu,

  • dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.

Dukungan para tokoh ini diyakini mampu mempercepat penerimaan masyarakat terhadap perubahan perilaku sehat.


Rumuskan Solusi, Wujudkan Aksi: Hasil Keputusan Rembug Stunting

Dari hasil diskusi panjang, beberapa rekomendasi dan keputusan penting diambil, di antaranya:

  1. Penetapan prioritas masalah kesehatan yang harus ditangani dalam waktu dekat.

  2. Penentuan program dan kegiatan penanganan stunting untuk masuk dalam rencana pembangunan desa.

  3. Penguatan koordinasi antara Pemdes, Puskesmas, TP-PKK, dan kader.

  4. Penegasan peran keluarga sebagai pusat pengasuhan dan pemenuhan gizi anak.

  5. Mendorong kolaborasi masyarakat untuk membangun sanitasi dan lingkungan sehat.

Semua keputusan tersebut merupakan bagian integral dari upaya menyusun peta jalan penurunan stunting tahun 2025—2026.


Penutup: Menuju Kedunguter Bebas Stunting

Rembug stunting Desa Kedunguter pada tanggal 30 Oktober 2025 menjadi bukti nyata bahwa desa memiliki semangat kuat untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, tenaga kesehatan, dan organisasi kemasyarakatan, Desa Kedunguter optimis dapat mencapai target penurunan stunting secara signifikan.

Melalui kerja bersama, tekad yang bulat, dan aksi nyata di lapangan, Desa Kedunguter melangkah menuju cita-cita besar: mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan unggul yang siap membangun negeri.

Tulis Komentar