Sistem Informasi Desa Kedunguter

Pitutur Banyumasan Hadir di Desa Kedunguter, Ruang Belajar Budaya bagi Generasi Muda

Mahasiswa Telkom Menyapa Desa Lewat Program Peken Banyumasan

Desa Kedunguter mendapat kehormatan menjadi salah satu desa tujuan dalam kegiatan Pitutur Banyumasan, sebuah program edukatif yang digagas oleh Peken Banyumasan. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 10 Januari 2026 ini diikuti oleh mahasiswa Telkom yang secara langsung mengunjungi desa-desa di wilayah Kecamatan Banyumas untuk mengenal, mempelajari, dan merasakan kekayaan budaya, UMKM, serta potensi lokal yang dimiliki desa.

Program Pitutur Banyumasan dirancang sebagai ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa, tidak hanya melalui teori di ruang kelas, tetapi juga dengan menyelami kehidupan sosial dan budaya masyarakat secara langsung. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami nilai-nilai kearifan lokal Banyumasan yang masih terjaga di tengah perkembangan zaman.

Desa Kedunguter Tampilkan Kekayaan Seni dan Budaya Lokal

Dalam kunjungan tersebut, Desa Kedunguter menyuguhkan potensi seni budaya unggulan yang menjadi kebanggaan masyarakat. Bertempat di desa, para mahasiswa disambut dengan pertunjukan seni dari Sanggar Tari Puspa Kencana, yang menampilkan tiga tarian khas Banyumasan, yaitu Tari 10.000 Lengger Menari, Tari Benthik, dan Tari Cepetan.

Ketiga tarian tersebut tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat makna filosofi yang merepresentasikan semangat kebersamaan, kegembiraan rakyat, serta identitas budaya Banyumasan yang luwes dan egaliter. Melalui penampilan ini, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa seni tradisi bukan sekadar hiburan, melainkan media pewarisan nilai dan sejarah.

Harmoni Irama dari Sanggar Seni Natajiwa Percussion

Selain pertunjukan tari, suasana semakin hidup dengan penampilan dari Sanggar Seni Natajiwa Percussion. Alunan musik perkusi yang energik dan dinamis berhasil menciptakan atmosfer interaktif antara seniman dan penonton. Irama yang ditampilkan mencerminkan kreativitas seni kontemporer yang tetap berakar pada budaya lokal.

Penampilan ini menjadi bukti bahwa seni tradisi dapat terus berkembang dan beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Para mahasiswa pun tampak antusias, bahkan terlibat langsung dalam sesi diskusi dan pengenalan alat musik yang digunakan.

Ruang Dialog Budaya dan Pembelajaran Kontekstual

Kegiatan Pitutur Banyumasan di Desa Kedunguter tidak berhenti pada pertunjukan seni semata. Terdapat pula sesi dialog dan pemaparan mengenai sejarah sanggar, proses pelestarian budaya, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga eksistensi seni tradisi di era modern. Interaksi ini membuka wawasan mahasiswa tentang peran penting masyarakat desa dalam menjaga warisan budaya.

Bagi Desa Kedunguter, kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan potensi budaya sekaligus membangun jejaring dengan kalangan akademisi dan generasi muda. Sementara bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi pengalaman berharga yang memperkaya pemahaman tentang Banyumasan dari sudut pandang yang lebih dekat dan autentik.

Komitmen Bersama Melestarikan Budaya Banyumasan

Melalui program Pitutur Banyumasan, diharapkan terjalin sinergi antara dunia pendidikan, komunitas budaya, dan pemerintah desa dalam upaya pelestarian budaya lokal. Desa Kedunguter menunjukkan komitmennya untuk terus membuka ruang pembelajaran, apresiasi, dan pengembangan potensi desa berbasis budaya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga subjek pembelajaran yang kaya akan nilai, tradisi, dan inspirasi bagi generasi masa depan.

Tulis Komentar